Kajian Strategis Dinas Pendidikan Kota Surabaya
Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Dinas Pendidikan untuk menjamin kualitas dan pemerataan layanan pendidikan, kami menyajikan potret komprehensif mengenai kondisi dan kebutuhan guru di Kota Surabaya.
Menyajikan data untuk membangun persepsi yang sama bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai dinamika SDM guru.
Menunjukkan keterbatasan indikator umum seperti rasio guru-siswa dan menyajikan data kebutuhan riil yang lebih akurat.
Memaparkan arah kebijakan dan rencana strategis Dinas Pendidikan dalam mengatasi tantangan pemenuhan kebutuhan guru.
SD Negeri
SMP Negeri
Interpretasi Awal: Angka rasio secara umum tampak cukup ideal.
(Per 1 Des 2024)
SD Negeri: -705
SMP Negeri: -312
Temuan Mendalam: Terdapat kekurangan riil yang signifikan.
(Periode 2025 - 2028)
SD Negeri: 999
SMP Negeri: 540
Implikasi Strategis: Tanpa rekrutmen masif, krisis akan berlanjut.
Rasio agregat yang tampak "baik" seringkali menutupi masalah kekurangan guru yang sebenarnya. Mari kita bedah mengapa demikian.
Di satu sisi, angka rasio guru-siswa kita tampak ideal. Namun di sisi lain, Dinas Pendidikan mencatat adanya kekurangan lebih dari seribu guru. Bagaimana mungkin kedua angka ini sama-sama benar?
(Gambaran Permukaan yang Terlihat Baik)
(Kenyataan di Lapangan yang Kritis)
Jawabannya terletak pada cara kita menghitung...
(Semua tenaga pendidik dihitung)
Total Guru / Total SiswaAngka Rasio yang Tampak Ideal
Jumlah Siswa per Rombel
Ini adalah **beban kerja riil** yang dihadapi guru setiap hari dan menjadi dasar **Analisis Kebutuhan Guru (AKG)** kami di Dinas Pendidikan.
Kekurangan guru diperparah oleh jumlah guru PNS yang purna tugas setiap tahun. Grafik ini menunjukkan skala tantangan rekrutmen yang harus kita hadapi.
Kekurangan guru bukan hanya angka statistik. Kondisi ini menciptakan berbagai dampak negatif yang dirasakan langsung di sekolah, baik oleh guru maupun siswa.
Sejak 2022, skema jam mengajar >24 JP hingga 40 JP diberlakukan. Ini melebihi tugas normal guru yang juga harus menyiapkan materi, menilai, dan membuat laporan.
Beban kerja tinggi berisiko menurunkan kualitas KBM serta berdampak pada kesehatan fisik dan mental guru, menimbulkan "kekhawatiran dan kecemasan".
Kekurangan guru, terutama Guru Kelas SD, telah memasuki "tahap yang mengkhawatirkan", berisiko pada layanan pendidikan dasar yang tidak optimal bagi siswa.
Dari data yang telah kita lihat, terungkap sebuah cerita yang jelas. Kini, pertanyaannya adalah: bagaimana langkah kita ke depan? Berikut adalah peta jalan strategis yang kami usulkan.
Kita harus berhenti menggunakan rasio guru-siswa sebagai metrik utama. Fondasi semua kebijakan kepegawaian guru wajib didasarkan pada Analisis Kebutuhan Guru (AKG) berbasis Rombel yang riil.
Krisis kekurangan 1.017 guru dan ancaman pensiun 1.539 guru adalah "bom waktu". Diperlukan rekrutmen multi-tahun yang **konsisten dan melebihi angka pensiun** untuk menutup defisit.
Tujuan akhir kita bukan hanya memenuhi kuantitas, tapi membangun ekosistem pendidikan unggul. Ini mencakup kesejahteraan guru, sinergi dengan sekolah swasta, dan menjadikan Surabaya barometer nasional.